KawulosejatiSejatiningkawulo

Aku adalah dia, dia adalah aku

"hidup bukan pilihan melainkan ketetapan yang harus dijalani, hidup bukan pula pertanyaan melainkan jawaban yang harus ditindaki" ( Winarno Hadi Saputro, 2007 )

Tentang Kawulo

“aku datang dari balik kabut hitam, aku mengarungi samudera darah, akulah pangeran kegelapan. Kan ku remas matahari di telapak tanganku. Kan ku pecahkan wajah rembulan, pecah terbelah dengan KIDUNG PAMUNGKAS. kan ku buat dunia berwarna merah."

Tampilkan postingan dengan label pawarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pawarta. Tampilkan semua postingan

Skema Di Balik Ketenaran K-Pop

Skema Di Balik Ketenaran K-Pop

Dewasa ini industri hiburan di Korea Selatan telah mengalami perkembangan yang luar biasa, gelombang Korea (Korean wave) atau yang disebut hallyu memang sudah menjalar ke seluruh pelosok dunia. Budaya Korea semakin disukai, drama Korea punya banyak penggemar serta Korean music pop (K-Pop) menjadi trend setter di banyak negara belakangan ini. K pop tersebut kemudian menjadi kiblat dan ditiru mulai dari warna musik, gaya busana serta aksi panggungnya oleh para peminatnya.

Di dalam negri Korea selatan sendiri musik pop telah mendapatkan tempat di hati para penggemarnya. Untuk melihat konser para bintang K-Pop, mereka harus membeli tiket yang paling murah saja seharga 100 ribu Won atau sekitar 800 ribu Rupiah untuk sekali pertunjukan, sebuah harga yang dikategorikan cukup mahal bahkan untuk orang Korea sekalipun.

Namun demikian kepopuleran K-Pop tersebut bukanlah sebuah kebetulan semata, melainkan ada sebuah skenario sistematis yang dilakukan pemerintah dan industri hiburan Korea Selatan dengan memanfaatkan orang-orang asing seperti dari Italia, Amerika serikat, Rusia, Australia, China, Spanyol, Singapura, Thailand, Philipina, Indonesia dan berbagai negara lainnya yang tinggal di Korea Selatan.

Beruntunglah pada suatu kesempatan saya bisa menemui satu orang asal Indonesia yang ikut memopulerkan K-Pop tersebut. Namanya Ai Melani, di sela-sela kesibukannya merampungkan kuliah S3 teknik nuklir di KAIST ( Korea advanced institute of science and technology) kota Daejon dan sebagai Tutor Universitas Terbuka Korea Selatan, perempuan asal Sukabumi, Jawa Barat yang sudah 4 tahun tinggal di Korea ini bersedia saya wawancarai mengenai keterlibatanya dalam memopulerkan K-Pop.

Keterlibatanya dalam memopulerkan K-Pop ketika ia tergabung dalam World Students in Korea yaitu sebuah pekumpulan yang dibuat oleh Presiden Council Board ( semacam menteri komunikasi Korea) dengan merekrut para bloger asing baik yang berada di Korea Selatan maupun bloger dari luar Korea Selatan untuk menulis tentang K-Pop dan menyebarkanya ke negara masing-masing. Para bloger ini diberi “tugas” untuk memasarkan melalui blog ataupun dengan mengupdate status lewat jejaring sosial yang sedang tren saat ini seperti facebook, Twitter, Google+ dan lain sebagainya yang terbukti efektif dalam penyebaran informasi dengan cepat. Dari itu tiap hari Ai Melani menerima 200 an email yang menanyakan tentang Korea Selatan terutama tentang K-Pop yang harus ia jawab. Dari 200 an penanya tersebut, mereka biasanya juga akan menulis informasi yang telah didapat ke dalam blog atau jejaring sosial milik mereka, begitupun orang yang membaca tulisan mereka akan melakukan hal yang sama begitu seterusnya sehingga akan terjadi penyebaran semacam MLM (multi level marketing) dan itu baru dari Indonesia dan dari satu orang saja.

Sebagai reward atas yang telah dilakukan para bloger yang mayoritas pecinta K-Pop ini, mereka mendapatkan tiket gratis menonton konser live band-band Korea dan juga tiket pesawat gratis. Sedangkan untuk best bloger selain memperoleh produk-produk made in Korea mereka juga akan menjadi member M-NET Global Supporter, M-NET adalah salah satu chanel musik televisi di Korea Selatan (Korean MTV). Para member M-NET Global Supporter tersebut akan menjadi tamu VIP dalam acara live show, mereka dapat bertemu bahkan berbincang langsung dengan para bintang-bintang K-pop di Korea Selatan tetapi dengan catatan setiap minggu harus memosting tentang K-pop di jejaring sosial milik mereka. Bagi Ai Melani bertemu para artis K-Pop bukanlah hal yang luar biasa karena dalam seminggu ia bisa empat kali bertemu bintang K-Pop seperti Rain, SUJU, SNSD dan lainnya.

Meskipun begitu ketenaran para bintang K-Pop ini juga didukung dari sang talent artis K-Pop itu sendiri, mereka adalah orang-orang terpilih melalui audisi yang ketat kemudian ditraining sesuai kebutuhan sebelum diterjunkan ke industri hiburan jadi selain berparas menarik, mereka juga benar-benar punya kualitas suara. Sebagai uji coba mereka diterbitkan di industri hiburan lokal dalam negri untuk melihat sejauh mana respon audien sebelum diproyeksikan ke mancanegara.

Sebuah strategi yang sejauh ini berhasil dengan mensinergikan antara pemerintah, industri hiburan, talent, masyarakat dalam negri, masyarakat asing dan media informasi. Jadi bukan sekedar latah dengan menerbitkan band-band karbitan dengan mengabaikan unsur kualitas. Kabarnya Korea selatan juga akan melakukan langkah yang sama terhadap bahasa nasional mereka yaitu Bahasa Korea dimana beberapa tahun terakhir ini mulai dibangun lembaga-lembaga pembelajaran bahasa Korea gratis bagi orang asing yang tinggal di Korea Selatan dalam rangka menjadikan bahasa Korea sebagai bahasa internasional bersama dengan bahasa Inggris, tetapi apakah langkah ini bisa sesukses K-Pop kita lihat saja beberapa tahun ke depan.

Di Negara kita Indonesia sebenarnya juga punya potensi yang tak kalah dengan Korea selatan, kita punya warna musik yang lebih beragam, punya jumlah penduduk lebih banyak yang menyebar di negara-negara seluruh dunia, serta jumlah orang asing cukup banyak yang tinggal di Indonesia. Data terakhir dari KBRI Seoul tahun 2011 bahwa jumlah orang Korea yang tinggal di Indonesia kurang lebih 35.000 orang, hampir sama dengan jumlah orang Indonesia yang tinggal di Korea Selatan yaitu 38.000 orang dan itu baru dari Korea Selatan saja. tinggal bagaimana mensinergikan antara pihak-pihak terkait atau mencari formula baru dengan mengoptimalkan apa yang telah ada untuk lebih mengenalkan Indonesia beserta potensi dan budayanya dalam kancah Internasional.

Korea Selatan dan Wajib Militernya

Korea Selatan dan Wajib Militernya



Begitu menginjakan kaki di Korea Selatan tahun lalu kesan masyarakat yang teratur dan lingkungan yang nyaman begitu tampak, begitupun saat bekerja di perusahaan yang menjadi tempat kerja saya sekarang, saya langsung diperkenalkan dengan budaya orang-orang korea yang pali-pali (serba cepat), pernah suatu ketika teman saya orang Indonesia ikut tour yang mengharuskan berangkat jam 12 siang, namun dikarenakan jarak tempat yang cukup jauh dan bangunnya kesiangan maka teman saya mencoba naik taksi sambil menelpon orang Korea yang menjadi sopir bus travel untuk menunggu 5 menit tetapi tetap saja sang sopir meninggalkannya. “hanya” karena terlambat 5 menit teman saya harus kecewa dengan merelakan uang yang telah dibayarkan untuk tour maupun untuk membayar taksi yang begitu jauh.

Banyak hal yang mempengaruhi kehidupan orang Korea yang akhirnya menjadi kebiasaan tersebut salah satunya adalah gundae (Wajib Militer), meskipun tidak semua warga Korea Selatan setuju dengan kebijakan ini. Satu diantara warga tersebut adalah Jang Myung Jin, pemuda 25 tahun yang tinggal di kota Daegu ini sudah setahun berteman dengan saya. pada suatu kesempatan saya sengaja menemui Jang Myung Jin untuk sekedar bertanya perihal ketidak ikut sertaanya dalam gundae. Ia memang pemuda yang ramah, ketika itu ia baru saja datang dari kage (super market mini) dan sayapun disuguhi kokuma pang (roti yang berbahan dasar dari ubi jalar). Kokuma pang menjadi penganan yang ekskulusif di Korea Selatan karena harganya yang lumayan mahal, bayangkan dengan uang 3 ribu won atau sekitar 24 ribu rupiah hanya mendapatkan satu kemasan plastik yang berisi 5 butir ubi ukuran sedang, dengan uang segitu di kota saya Karanganyar, Jawa tengah, tentu bisa untuk membeli satu karung ubi jalar.

Sembari menikmati kokuma pang, Jang Myung Jin menjelaskan tentang “kemangkirannya” dari kewajiban militer. Menurut kepercayaan yang ia anut ikut Wajib Militer berarti dilatih untuk berbuat keras, memegang senjata dan belajar menembak yang ia artikan sebagai manifestasi persiapan perang, kalaulah terjadi perang maka akan terjadi saling bunuh dan ia tidak ingin membunuh. Karena alasan itulah ia tidak mau mengikuti Wajib Militer, tentu saja Jang Myun Jin dikenai sanksi oleh Negara dengan hukuman penjara, hukuman bagi laki-laki warga Korea yang “membelot” dari pangilan wajib militer adalah 1 tahun 6 bulan tapi jangan dibayangkan kalau penjara di Korea Selatan begitu menyeramkan, Jang Myung Jin menceritakan bahwa penjara di Korea Selatan seperti sebuah kota kecil yang lengkap dengan fasilitasnya, ia pun juga digaji selama berada dipenjara meski jumlahnya sangat kecil.

Wajib Militer di Korea Selatan telah dimulai pada tahun 1950 an ketika meletus Perang Korea (Korea Selatan dan Korea Utara), sejak saat itu setiap laki-laki yang telah berusia 20 tahun diharuskan mengikuti Wajib Militer karena secara teknis hingga saat ini status Korea Selatan dan Korea Utara masih dalam keadaan berperang, gencatan senjata yang dilakukan pada tahun 1953 hanyalah perjanjian yang secara hukum tidak bersifat permanen. Hal tersebut juga diungkapkan oleh salah seorang atase bidang pertahanan KBRI ( Kedutaan Besar Republik Indonesia) Seoul dalam sebuah pertemuan beberapa waktu lalu yang menyampaikan himbauan kepada seluruh Warga Negara Indonesia di Korea Selatan untuk tetap waspada terkait status Korea Selatan dan Korea Utara yang sebenarnya masih dalam status berperang. Namun demikian Wajib Militer di Korea Selatan telah mengalami perkembangan sesuai dengan situasi pemerintahan dan negara saat ini berbeda dengan era perang yang benar-benar ditujukan untuk berperang, para pemuda yang telah memasuki usia Wajib Militer usia 20 tahun boleh meminta penangguhan sampai usia 30 an tahun, merekapun boleh memilih unit korps yang disukai. Haegun (Angkatan Laut), Gonggun (Angkatan Udara ) atau Yukgun (Angkatan Darat).

Selama 2 tahun mereka dilatih kemiliteran serta menembak, setelah 100 hari diperbolehkan libur selama beberapa hari, maka tak heran jika kita sedang berjalan di kota-kota di Korea Selatan sering melihat pemuda berpakaian tentara, karena semua laki-laki warga Korea (hanya Warga Negara Korea Selatan saja) memang diharuskan mengikuti Wajib militer, kecuali orang yang karena syarat tertentu dibebaskan dari Wajib Militer oleh pemerintah Korea seperti orang cacat, orang yang menjadi tulang punggung keluarga (tidak ada yang menopang kehidupan keluarga), orang dengan prestasi tertentu, orang yang dianggap berjasa terhadap negara, orang yang telah terikat dengan instansi negara dan laki-laki yang telah menikah sebelum usia Wajib Militer. Beberapa orang tersebut selain ada yang dibebaskan Wajib Militer tapi juga ada yang cuma diwajibkan selama 1 bulan saja. Awalnya saya kira mereka adalah tentara pemerintah ( profesi tentara ) ternyata kebanyakan dari mereka adalah pemuda yang sedang menjalani Wajib Militer ataupun sedang mengikuti pertemuan, karena agar tetap dapat mengingat materi dalam gundae mereka juga diharuskan mengikuti pertemuan tiap tahun sekali atau dua kali.

Teman saya Jang Myun Jin mengungkapkan bahwa Wajib Militer memang dapat membentuk jiwa disiplin tetapi disisi lain juga dapat menciptakan aroganisme, Wajib Militer akan efektif jika negara benar-benar dalam keadaan berperang. Di akhir obrolan sore itu Jang Myun Jin berbalik bertanya kepada saya, adakah wajib militer di Indonesia? bagaimana kira-kira kalau di Indonesia diberlakukan Wajib Militer? Sebuah pertanyaan yang saya sendiri tidak bisa mereka-reka. Memang perlu adanya perbaikan untuk membentuk masyarakat yang disiplin tetapi apakah dengan cara Wajib Militer diberlakukan di Indonesia yang tentu saja akan butuh biaya yang sangat besar ditengah-tengah perekonomian Indonesia seperti sekarang ini. Entahlah? Yang jelas saat ini yang dibutuhkan Indonesia bukanlah sekedar produk-produk pemikiran saja melainkan juga tindakan yang didasari kesadaran sebagai warga negara untuk memajukan negaranya sendiri, Indonesia.

Seorak San Gunung Empat Musim Nan Menawan

Seorak San Gunung Empat Musim Nan Menawan

Sebenarnya sudah lama saya mendengar nama obyek wisata Seorak San, bahkan ketika saya belum datang ke Korea, tetapi baru liburan musim panas kemarin saya berkesempatan bisa mengunjungi taman nasional yang terkenal di Korea selatan itu. Taman nasional Seorak san (gunung Seorak) berada di wilayah Kangwondo, satu dari sembilan propinsi di Korea selatan yang letaknya di timur laut berbatasan dengan Korea utara. Untuk menuju ke Seorak san dapat ditempuh dengan naik bus umum dari Seoul yok (terminal Seoul) ke terminal Sochok sekitar satu setengah jam dilanjutkan dengan naik bus kota dengan tarif 1.200 won (sekitar 9.000 rupiah) selama 20 menit atau naik taksi dengan tarif 9.000 won (sekitar 70. 000 rupiah).

Pada saat musim libur di Korea selatan, gunung Seorak selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun luar negri baik pada saat liburan seollal (tahun baru Korea), liburan chuseok (festival hari panen) ataupun hari libur di musim semi, musim panas, musim gugur dan bahkan di musim dingin. Karena gunung Seorak selalu menyajikan keindahan pemandangan yang berbeda di empat musim yang berbeda pula. Pada saat musim semi gunung Seorak menawarkan pemandangan hijau dihiasi aneka warna bunga yang mulai mekar, pada saat musim panas aneka spesies langka akan nampak terlihat di gunung ini diantara pohon pinus merah sedangkan saat musim gugur pepohonan mulai berubah warna menjadi merah dan kuning, dedaunan jatuh berserakan sesekali terbang tertiup angin dengan udara yang cukup sejuk, dan pada saat musim dingin gunung Seorak dihujani salju lebat nan tebal menutupi bukit-bukit ataupun menyangkut di atas pepohonan di sela-sela ranting, itulah sebabnya gunung ini dinamakan Seorak san (gunung salju) karena pada saat musim dingin gunung ini tertutup salju yang putih seperti kapas. Sungguh menawan memang ditambah dengan ketersediaan fasilitas yang mewadai membuat liburan ke Seoraksan menjadi mengesankan.

Area taman yang nyaman dilengkapi toilet yang bersih dan lahan parkir luas didepan loket masuk menjadikan akses ke gunung Seorak ini menjadi mudah, dengan harga tiket masuk seharga 11.500 won (sekitar 90.000 rupiah) pengunjung dapat menggunakan cable car (kereta gantung) untuk menuju puncak karena memang ada dua alternatif jalur untuk sampai ke puncak gunung yaitu jalur pendakian jalan kaki yang ditempuh selama beberapa jam melewati jalan setapak tanah dengan batang-batang kayu yang dirajut kawat sehingga jalan tidak licin untuk dilewati atau jalur cable car yang cukup ditempuh kurang dari 10 menit. Meskipun ketinggian puncak gunung seorak hanya 1.708 meter di atas permukaan laut masih lebih rendah dengan ketinggian gunung-gunung di dekat tempat tinggal saya di Solo, Jawa Tengah dimana terdapat pegunungan seperti gunung Lawu, gunung Merapi, gunung Merbabu dan lainnya dengan ketinggian lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut tetapi saya ingin mencoba untuk menikmati keindahan gunung dari udara dengan naik cable car, sebuah akses muncak yang belum pernah saya rasakan di Indonesia namun di Korea selatan hampir semua obyek wisata gunung telah dilengkapi dengan transportasi cable car ini.

Di dekat pintu jalur pendakian, pengunjung dapat membeli aneka souvenir dengan harga dari 3.000 won (sekitar 23.000 rupiah) yang langsung dibuat oleh para biksu Budha, pengunjung juga dapat melihat aktivitas para biksu tersebut di area gunung Seorak ataupun saat berdoa di dekat patung budha besar asobya dengan posisi tangan bumi sparsa mudra yang berarti memanggil Dewi bumi sebagai saksi.

Tak jauh dari tempat itu terdapat seorang pengukir yang dengan imbalan jasa 25.000 won (sekitar 200.000 rupiah ) dapat mengukir nama dan asal pengunjung pada sebuah tanah liat kering berbentuk gentheng yang kemudian diletakan berjajar dengan harapan apa yang menjadi keinginan dapat terkabul. Dan setelah melihat gentheng-gentheng berukir itu saya jadi tahu ternyata banyak sekali orang Indonesia yang telah berkunjung ke gunung Seorak karena namanya terukir di gentheng tersebut.

Di sebelah sisi kiri pintu jalur pendakian terdapat jembatan yang tersusun dari bebatuan terpola di atas aliran sungai nan bening, beberapa ratus meter dari jembatan terdapat pemandangan aneh yaitu sebuah kran tergantung di angkasa tanpa peyangga maupun penggantung namun dapat mengeluarkan air. Kran tersebut ditunggui oleh seorang laki-laki yang sekaligus menjajakan minuman anggur yang diracik langsung dari tangannya sembari pengunjung dapat menikmati pemandangan unik itu.

Perjalanan saya ke gunung Seorak memang sangat mengesankan setelah sekian lama saya ingin mengunjungi tempat tersebut, dalam suatu kesempatan di gunung Seorak saya bertemu turis asal Eropa yang pernah mengunjungi pegunungan di Indonesia sebanyak dua kali dan kali itu ia mencoba untuk berwisata ke gunung Seorak. Gunung Seorak meski terletak di ujung bagian negara Korea selatan tetapi dengan daya pesonanya mampu menarik wisatawan lokal maupun mancanegara dan selalu ramai di setiap musim, itulah sebabnya saya menyebut gunung Seorak ini sebagai gunung empat musim nan menawan.

Valentine’s Day Ala Negri Gingseng

Valentine’s Day Ala Negri Gingseng

Lumrahnya hari valentine seperti yang kita kenal memang dirayakan pada tanggal 14 Februari, budaya ala barat yang disebut sebagai hari kasih sayang ini memang sudah menggejala ke belahan dunia bahkan sudah menyebar ke Indonesia hingga sampai ke kota-kota kecil. Pada hari valentine pusat-pusat perbelanjaan banyak menawarkan aneka coklat dengan berbagai bentuk, para muda- mudi saling berucap kasih bersama pasanganya ataupun hang out ke tempat-tempat romantis.

Namun Valentine’s day pada tanggal 14 Februari nampaknya kurang begitu popular di Korea Selatan, pernah suatu ketika pada hari valentine saya mencoba menanyakan tentang perayaan valentine di Korea Selatan kepada beberapa teman orang Korea tetapi justru mereka berbalik bertanya tentang Valentine’s day itu sendiri kepada saya. Ternyata Korea Selatan punya perayaan tersendiri yang mirip dengan hari Valentine yaitu Pepero Nal ( Pepero Day ) atau Hari Pepero. Tahun lalu saya pernah mendapatkan beberapa bungkus makanan ringan yang berbahan dasar coklat dari rekan-rekan kerja saya dan tahun ini pada tanggal dan bulan yang sama yaitu 11 November saya mendapatkanya lagi dari rekan-rekan kerja saya, begitupun di jalan-jalan banyak saya lihat orang orang Korea saling bertukar makanan ringan yang sama, baru saya tahu ternyata coklat yang diberikan kepada saya ataupun yang saling ditukarkan itu adalah Pepero.

Pepero merupakan penganan yang terbuat dari kue batangan yang bagian atasnya dicelupkan ke dalam coklat sehingga berbentuk stick, penganan yang di produksi oleh sebuah perusahaan makanan ringan di Korea Selatan, Lotte confectionery sejak tahun 1983 dan mempunyai 10 rasa yang berbeda ini begitu laris pada bulan november. Pepero day adalah kebudayaan modern di Korea Selatan yang dimulai pada tahun 1994 di Busan, waktu itu para pelajar Girls Middle School saling bertukar hadiah yang isinya adalah Pepero dengan harapan agar mereka dapat tumbuh tinggi dan langsing seperti bentuk Pepero dan sejak saat itu budaya saling memberi Pepero itu semakin meluas di seluruh Korea Selatan, Pepero day dirayakan pada tanggal 11 November (11-11) karena tiap bungkus Pepero terdiri dari 4 batang yang tiap batang disimbolkan sebagai angka satu. Tanggal 11 November merupakan hari istimewa bagi muda-mudi Korea Selatan karena mereka merayakan hari Pepero. mereka saling bertukar Pepero maupun hadiah romantis lainya, budaya Pepero day ini sampai sekarang semakin populer mengalahkan kepopuleran Valentine’s day di Negri Gingseng.

Bagi saya orang Indonesia, harapan yang muncul adalah munculnya bentuk kearifan lokal yang begitu baru. Yang sanggup menggantikan kebudayaan “asing” seperti Valentine Day. Sehingga penyikapannya tidak dengan jalan kekerasan yang kerap kali saya dengar. Membubarkan secara paksa peringatan Valentine’s day. Atau di lain sisi, menelan mentah-mentah kebudayaan “asing” yang sering kali tidak cocok dengan kondisi geografis serta sosial ekonomi bangsa Indonesia. Jika di Korea terbukti Pepero sanggup menggantikan Valentine’s day, mengapa tidak kita ciptakan suatu bentuk kearifan lokal yang sama sekali baru?

Suatu Waktu di Hari Minggu

Suatu Waktu di Hari Minggu


(Rapat Bersama KBRI Korea Selatan)
Siang itu memang tidak sedingin dua hari sebelumnya ketika suhu udara berada di angka 1°C, saat-saat pergantian musim di Korea Selatan suhu udara memang tidak menentu terlebih pada peralihan musim gugur ke musim dingin seperti sekarang ini. Musim gugur yang jatuh pada bulan September sampai bulan November dengan kisaran suhu 10°C sampai dengam 25°C tiba-tiba bisa turun drastis menjadi suhu minus bahkan pada puncak musim dingin pada bulan Desember sampai bulan Februari suhu udara bisa mencapai minus 10°C. Pepohonan mulai berubah warna menjadi merah dan kering, orang-orang mulai memakai pakain tebal dan menyiapkan pemanas ruangan. Di dalam rumah meski musim dingin tetap akan terasa hangat karena rumah orang korea dilengkapi dengan ondol yaitu sistem pemanas khas Korea yang dipasang di bawah lantai bersama dengan lantai kayu.

Tiap libur hari minggu saya mencoba menyempatkan diri datang ke pusat pelayanan orang asing DFC ( Daegu Foreigner Centre ), sekitar satu jam perjalanan dari kota Busan dengan naik kereta. DFC merupakan instansi pelayanan jasa konsultasi bagi pekerja asing yang ada di kota Daegu dan sekitarnya, melayani pengobatan gratis, telpon interlokal dan internet gratis, kursus bahasa korea dan komputer juga secara gratis. Di DFC saya banyak berkenalan dengan para pekerja dari berbagai negara seperti China, Vietnam, Philipina, Srilangka,
Pakistan dan para pekerja lain dari kawasan Asia, terkadang sayapun bertemu dengan rekan pekerja dari daerah asal yang sama Solo Jawa tengah. Atas undangan staf DFC saya memang harus datang agak awal karena akan ada rapat bersama KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) juga HRD (Human Resources Development) Korea Selatan yang akan membahas tentang kerjasama pemerintah Indonesia dan Korea Selatan dalam meminimalisasi jumlah tenaga kerja ilegal di Korea Selatan.

Acara dimulai oleh Mr Choi seng chan dari divisi pekerja asing Korea Selatan yang menyampaikan himbauan dari Pemerintah Korea Selatan kepada tenaga kerja Indonesia yang sudah habis masa ijin tinggalnya agar segera meninggalkan negara Korea dengan suka rela. Saat ini ada sekitar 1 juta 400 ribu tenaga kerja asing yang bekerja di Korea Selatan sedangkan jumlah tenaga kerja Indonesia sebanyak 38.000 orang, 5.147 orang dari tenaga kerja Indonesia tersebut adalah pekerja ilegal. Jumlah pekerja ilegal Indonesia berada diurutan ke-5 setelah Vietnam kemudian Thailand , China dan Philipina.
Mr joyong dung dari divisi urusan perijinan juga menghimbau kepada para tenaga kerja Indonesia untuk melakukan perencanaan keuangan dengan baik sehingga dapat memanfaatkan hasil yang telah di dapat di Korea untuk dikembangkan di negaranya sendiri. Dewasa ini kerjasama Korea Selatan Indonesia begitu intens dan luas terlebih dalam bidang perdangangan dan industri. Korea Selatan tercatat sebagai Investor terbesar kedua di Indonesia setelah Jepang, sebanyak 1.300 perusahaan investasi Korea yang beroperasi dengan 35.000 Orang korea. Dengan demikian para Tenaga kerja Indonesia yang telah pulang ke tanah air juga dapat bekerja di perusahaan Korea yang berada di Indonesia tersebut.
Sedangkan Dari konsuler KBRI Korea Selatan Ibu Dwi rachmawati menyampaikan perlunya pengendalian diri bagi WNI (Warga Negara Indonesia) dan Juga perlunya menjaga nama Negara sehingga kedepan akan mempermudah peningkatan kerjasama diberbagai bidang, karena tenaga kerja Indonesia yang berada di Korea Selatan sudah terkenal akan daya tangkapnya dalam penguasan pekerjaan dengan cepat.

Acara tersebut berakhir pada pukul 4 sore waktu setempat dan ternyata perut sayapun sudah mulai keroncongan. Hari itu saya memutuskan akan mencoba makanan Indonesia di Negri Gingseng. Setelah naik bus kota selama 15 menit akhirnya saya sampai di pusat kota Daegu dan langsung menuju ke Asia mart, salah satu dari dua warung Indonesia yang ada di kota Daegu. Pada hari minggu dan hari libur warung-warung Indonesia memang sangat ramai oleh warga negara Indonesia yang ingin makan masakan Indonesia, belanja ataupun sekedar berkumpul. Sudah ada seorang teman yang menunggu saya disana, ia berasal dari Mojosongo Solo, Jawa tengah, Ia bekerja di pabrik peleburan baja dan baru dua bulan di Korea itulah sebabnya ia datang untuk makan di Asia mart karena masih belum terbiasa dengan makanan Korea yang serba asam. Ia memesan sambel goreng ati, sayapun juga ingin mencoba sambel goreng ati ala Korea, setelah beberapa saat sang pemilik warung asal Semarang, Jawa tengah yang bersuamikan orang korea itu menghidangkan pesanan kami. Ternyata rasa sambel goreng ati yang kami nikmati sama persis dengan rasa sambel goreng ati yang ada di Indonesia ataupun sambel goreng ati yang dulu sering saya nikmati di jalan Surya belakang kampus UNS (Universitas Sebelas Maret Surakarta) semasa kuliah dulu. Dengan harga 9.000 won (sekitar 65. 000 rupiah) per porsi ditambah es kelapa sudah dapat mengobati kerinduan kami akan masakan Indonesia yang kaya akan cita rasa. Setelah menghabiskan makanan dan haripun semakin malam kami memutuskan untuk kembali ke tempat kerja kami masing-masing. dan hari Minggu saya pada waktu itu pun berakhir sampai disitu.

Selayang Pandang Tentang Negri Sebrang, Korea Selatan.

Selayang Pandang Tentang Negri Sebrang, Korea Selatan.

Korea Selatan, siapa yang tidak tahu Negri Gingseng berpenduduk 50 juta jiwa ini. Negri yang terletak di wilayah Asia Timur ini, kini begitu populer, tidak hanya saja industri manufakturnya tetapi juga industri hiburannya yang semakin terkenal dibelahan dunia. Negri yang merdeka 15 agustus 1945 hanya selang dua hari dengan kemerdekaan Negara kita Indonesia dan berperingkat ekonomi nomor 11 di dunia ini memang telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup dramatis dengan gerakan saemaeul (industrialisasi) nya, dari salah satu Negara termiskin dengan pendapatan perkapita 100 US dolar pada tahun 1960 melejit menjadi 20.000 US dolar per tahun pada tahun 2007. Meningkatnya ekonomi dan industri di Korea tentunya dibarengi dengan semakin bertambahnya jumlah permintaan tenaga kerja ke Negri itu, melalui program G to G (government to government) adalah perjanjian kerja sama penempatan tenaga kerja asing di Korea Selatan yang melibatkan 11 negara di wilayah Asia termasuk Indonesia, saya mencoba peruntungan untuk bertandang ke negri yang kami para TKI (Tenaga Kerja Indonesia) menyebutnya dengan “Negri impian dan harapan” itu.

Saya datang di Korea bertepatan dengan musim dingin bulan Desember silam, saat keluar dari pintu bandara Incheon International Airport Seoul, Sayapun dikejutkan dengan turunnya salju tipis dan dinginya suhu minus 5 derajat celcius, suhu itu bisa lebih turun lagi saat puncak musim dingin hingga mencapai minus 10 derajat celcius, suatu hal yang belum pernah saya rasakan di Indonesia sebelumnya, meski kampung halaman Saya terletak di kaki Gunung Lawu Tawangmangu Karanganyar, Jawa Tengah dengan suhu yang cukup dingin untuk takaran orang-orang di Indonesia tetapi ternyata masih belum seberapa dibandingkan dengan suhu saat musim dingin di Korea Selatan, sensasi yang luar biasa memang tapi harus dibalas dengan mengigilnya badan saya hingga beberapa hari.

Selama dalam perjalanan dari bandara ke tempat karantina, Saya mencoba mengamati daerah yang dilewati, secara geografis keadaan alam di Korea Selatan sebenarnya adalah bukit-bukit nan tandus dan kering berbeda dengan di Negara kita yang kaya akan sumber daya alaminya, Korea selatan tidak punya hutan dan laut sebesar di Indonesia, Korea Kelatan tidak punya sumber daya mineral dan energi sebanyak di Indonesia dan Korea Selatan tidak punya lahan perkebunan dan pertaniaan seluas seperti di Indonesia tapi memang Negara ini punya sumber daya manusia yang mampu memanfaakan secara optimal apa yang telah ada ditambah dengan karakter orang Korea yang tertib, disiplin dan pekerja keras. Orang-orang mengantri dengan tertib di tempat-tempat pelayanan umum, saat membeli tiket ataupun saat naik jihacol (kereta bawah tanah). Jihacol menjadi alat transportasi favorit bagi orang-orang Korea dan juga bagi Saya karena jarak tempuhnya yang lebih cepat dibanding dengan naik bus umum, stasiun jihacol dibangun dibawah tanah yang tentunya bebas dari kemacetan bahkan di Seoul stasiun jihacol dibangun hingga tingkat tujuh di bawah tanah, Saya belum bisa membayangkan jika hal ini diterapkan di Negri kita. Memang butuh adaptasi untuk mengikuti pola hidup orang Korea begitu halnya mengenai makanan, awal-awal tinggal di Korea saya tidak doyan makanan Korea bahkan saya butuh waktu 8 bulan untuk bisa menikmati kimchi (asinan khas Korea yang dibuat dari fermentasi sawi putih ) kitapun para TKI juga harus lebih jeli memilih masakan Korea yang kebanyakan terbuat dari daging babi dan disajikan bersama soju (minuman beralkohol) yang menjadi minuman wajib disetiap restoran di Korea, semacam es tehnya kalau di Negara kita. Untunglah tidak terlalu sulit untuk menemukan warung-warung Indonesia di Korea, hampir setiap kota di Korea terdapat warung Indonesia yang tentunya menjual produk-produk dari Indonesia baik masakan olahan seperti sate, opor, nasi goreng, gulai dan lainnya, makanan kemasan seperti krupuk udang, aneka keripik, bumbu-bumbu juga obat-obatan dan lainnya.

Tinggal di Negri orang pada awalnya memang banyak kendala yang dihadapi tetapi seiring bergantinya waktu saya mulai menikmati kehidupan Saya di negri “impian dan harapan” Korea Selatan, dan semoga suatu saat Negara kita Indonesia juga mampu menjadi Negara maju seperti Korea bahkan melebihinya. (bersambung)

Sang “Teroris” Belumlah Mati.

Sang “Teroris” Belumlah Mati.

Kondisi pencitraan Islam yang selalu terpojokan oleh aksi-aksi kekerasan maupun terorisme oleh kelompok tertentu di Indonesia senantiasa menyisakan pekerjaan rumah bagi umat muslim yang tinggal di negara-negara non muslim.

Tak terkecuali seperti halnya yang dilakukan oleh sebuah organisasi keislaman di Korea Selatan, Pumita Busan (Persaudaraan Umat Muslim Indonesia Al-Fatah Busan), pada Ahad (25/9) pukul 14.00 waktu setempat. Untuk mengcounter pernyataan-pernyataan yang intimidatif tentang islam, bertempat di Masjid Al Fatah Busan, Pumita Busan menerima kunjungan dari tokoh dan warga Nasrani Korea Selatan yang ingin mengetahui lebih jauh tentang Islam namun di hari yang sama beberapa jam sebelum acara dimulai tedengar warta dari Indonesia bahwa terjadi ledakan bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Jalan Arif Rahman Hakim, Solo, Jawa Tengah yang menyebabkan beberapa orang jemaat Gereja terluka dan satu orang yang diperkirakan sebagai pelaku tewas.

Korban tewas yang diduga sebagai pelaku bernama Ahmad Yosefa Hayat alias Ahmad Abu Daud ditenggarai merupakan tokoh jaringan pengebom di Masjid Adz Zikro lingkungan Mapolresta Cirebon pada Jumat 15 April 2011 yang lalu, entah dugaan ini benar atau tidak yang jelas kasus terorisme di Indonesia tersebut kembali mencederai perasaan umat Islam dibanyak Negara.

Sebelumnya memang sudah sering terjadi aksi pengeboman oleh terorisme di pelbagai daerah di Indonesia dan tokoh-tokoh pelaku pengeboman tersebut bukanlah orang sembarangan, sebut saja sang gembong teroris Noordin M Top, pria kelahiran Kluang Johor, Malaysia, 11 Agustus 1968, adalah seorang terpelajar lulusan University Teknologi Malaysia dan pernah menjadi seorang guru. Hijrah ke Indonesia setelah pemerintah Malaysia melakukan aksi pencarian teroris pasca tragedi WTC 11 September 2001, di Indonesia “berkongsi” dengan Dr Azhari yang juga bukan orang kacangan. Dr azhari adalah seorang insinyur bergelar Ph.D dari universitas Reading Inggris dan merupakan seorang dosen tetapi konon telah tertembak duluan dalam penyerbuan polisi anti teror di Batu Malang, Jawa timur, 9 November 2005.

Noordin M Top yang diberitakan tewas oleh tembakan sporadis pasukan anti teror Densus di desa Kepuh sari, Jebres, Jawa tengah, kamis 17 September 2009 langsung menjadi topik pembicaraan saat itu. Berbagai media, baik elektronik maupun cetak menyiarkan berita tersebut bak menjual kurma di bulan Saum yang laris manis. Beberapa hari kemudian Pejabat Kapolri membuat pernyataan resmi dan dengan “bangga” menyatakan bahwa salah satu korban tertembak adalah Noordin M Top.

Pernyataan Kapolri disambut tepuk tangan yang meriah seolah perburuan terhadap sang teroris telah qatam. Meski masih ada beberapa pihak yang meragukan kematian Noordin M Top dengan alibi dan argumen nya masing-masing, hal ini dapat dimaklumi atas ekses kinerja kepolisian yang beberapa kali mengalami "target error" dalam menangkap para teroris di Indonesia belum lagi ikhwan-ikhwannya (Amrozi cs) yang dicap sebagai pelaku teror bom Bali 12 oktober 2002 dengan menewaskan lebih dari 200 nyawa. Meski Amrozi cs berhasil ditangkap namun mereka tetap bungkam dan memilih dieksekusi menurut hukum di Indonesia begitupun dalam penangkapan-penangkapan teroris di tempat lain hanya orang-orang terdekat tokoh sentral teroris yang mampu “diculik” oleh kepolisian dan cuma bisa bungkam atau rela mati daripada membeberkan keberadaan tokoh intelektual di balik aksi-aksi tersebut.

Tewasnya pelaku pengeboman Gereja Bethel Sepenuh (GBIS) Solo, tentunya menyisakan pertanyaan apakah dia adalah tokoh qa’id (pemimpin) sentral ataukah hanya sebagai korban yang di “kambing hitam”kan karena dengan meninggalnya pelaku sekali lagi membungkam akses jaringan terorisme di Indonesia, pun bukti-bukti yang ditemukan di sekitar (TKP) Tempat Kejadian Perkara bisa jadi adalah faktor kesengajaan sebagai pengalih perhatian untuk “memagari” sang penulis skenario yang menjadikannya sebagai korban.

Kalaulah demikian berarti sang penulis skenario pastilah seorang “grand master” yang handal karena mampu menjalankan pion-pion sekaliber Noordin M Top, Dr Azhari, Amrozi dan munculnya kelompok jaringan Cirebon yang telah meledakan Masjid Adz Zikro Cirebon dan Gereja Bethel Sepenuh (GBIS) Solo. Bidak caturnya saja mampu membuat teror bagi begitu banyak masyarakat dan mempunyai doktrinisasi yang ampuh dalam “meminang pengantin” (sebutan untuk pelaku bom bunuh diri yang direkrut).

Teror yang dilakukan kelompok-kelompok ini diracik dengan bumbu jihad sedemikian rupa sehingga nampak ajib untuk dimakan dan mengundang orang untuk menikmatinya, sebuah teror yang terus menghantui serta membuat trauma bagi korban dan warga masyarakat lainnya.

Dalam kasus bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo. terbebas ada tidaknya tokoh intelektual yang mendalangi semuanya itu, jangan merasa aneh kalau sebenarnya sang pelaku teror belumlah mati (baca konsep-konsep doktrinisasi teror). Tugas kepolisian barulah sampai sebatas mengungkap identitas pelaku sedangkan untuk mematikan formulasi teror yang disuntikkan pelaku adalah tugas yang ada didalam diri kita masing-masing sebagai individu maupun kelompok.

Karena menilik dari bahasannya, teror merupakan kondisi takut akan bahaya yang mungkin terjadi, ditandai dengan kebingungan atas tindakan yang harus dilakukan. Sedangkan terorisme adalah bentuk nyata dari teror. Dengan kata lain teror yang diserang adalah perasaan kita. Serangan terhadap perasaan akan menimbulkan efek yang tak kalah ngerinya dibandingkan dengan serangan bom bom di negeri kita. Pemahaman kita diputar sedemikian rupa untuk menerima kebenaran ala sang empu dan kemudian menyebar bagaikan virus. Penyerangan semacam ini selain sang target terkena “bidik”, orang–orang disekitarpun akan terkena “selongsong”nya dan tentu saja akan memunculkan ketidak tenangan dan trauma yang mendalam bagi lebih banyak orang.

Jadi siapkan naluri dan kewaspadaan kita untuk menghadapi "strategy of power" dari nuklir-nuklir teror lainnya kalau tidak ingin hancur berkeping-keping.

“konangan”

“konangan”

Desa Glagah Sari 03/II, Rumah semi modern , limasan berbatu semen, atap seng warna tanah, pagar spanyolan pupus daun, satu mobil kijang kapsul, satu mobil pick up putih. ”hmm… sarang yang cukup mewah untuk 'beranak pinak' di perkampungan.”

Sore beranjak malam, tetangga, perangkat desa, carik ( sekretaris desa ), satu anak laki-laki, satu anak perempuan, dua duanya PNS ( pegawai negeri sipil ). “benar benar anak yang bisa mendem jero, mikul dhuwur.”

Pak Parto, 47 tahun, istri pedagang sayur pasar legi Solo, disegani, latah. ”latah?” ya memang begitulah kendati Pak Parto termasuk jajaran pamong yang selalu disumanggaaken duduk dikursi depan dalam event desa, mantu, kondangan, kenduri, dan sebagainya tetapi ia punya kebiasaan tak lazim yaitu suka menirukan tingkah laku atau perkataan seseorang dengan tiba tiba atawa latah karena “kenylenehannya” itu jugalah yang menyebabkan ia ketahuan bermain petak umpat dengan istri sahnya

Meski tidak sefrontal oknum bupati yang kepergok skandal seksnya lewat jendela video 3gp atau anggota dewan terhormat yang terintip dalam fragmen kasur dengan pasangan aduhainya di gambar unduh tetapi “kethoprak” yang deperankan oleh Pak carik dan para pelakon lainnya menggeser citra Pak Parto sebagai seorang pamong dimata warga desa.

Mrs SR, adik ipar Pak Parto sedang membeli beberapa barang keperluan rumah tangga di warung kelontong milik Mrs WRT. Warung terbuka, pemilik tak menunggui. Kebiasaan para pembeli di warung desa itu pasti langsung nylonong saja masuk kedalam rumah siapa tahu pemiliknya tidak mendengarkan atau sedang berada di belakang rumah nyambi sesuatu. Sampai didalam rumah, Mrs SR tanpa sengaja mencuri dengar suara mendesah oh no oh yes. “jangan, jangan!”. Dengan jiwa inteljennya Mrs SR menguntit suara itu yang ternyata berasal dari dalam kamar rumah tengah yang kebetulan pintunya sedikit terbuka. ”kebetulan terbuka apa memang nggak sempat ditutup?” dan ternyata “lhadalah, lha lak tenan to pemilik warung benar benar lagi nyambi”. Mrs SR melihat adegan blue film di kamar itu dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata Mrs WRT melakukanya dengan Pak pamong yang merupakan kakak ipar Mrs SR.

Seperti biasanya tiap sore Pak Parto selalu menikmati sinetron kegemarannya di salah satu stasiun televisi swasta bersama sang istri. Namun kali ini Pak Parto hanya menonton seorang diri. Sebuah acara televisi yang didalamnya sarat adegan perselingkuhan, serong, bermain mata atau apalah namanya yang dilakukan para suami disebuah komplek perumahan meski para suami selalu mengelak dengan dalih masing-masing dari istrinya tetapai di ending cerita akhirnya ketahuan juga belang sang suami, lalu para suami dihukum oleh istrinya dengan cara yang berbeda-beda.

Sedang enjoy menonton sinetron kesukaannya, tiba tiba istri Pak Parto datang dari luar rumah dengan menggebu-gebu dan wajah marah.
“mas tolong katakan terus terang, mas selingkuhkan?”
Pak parto tersentak mendengar pertanyaan ronde satu dari istrinya, dengan salah tingkah ia mencoba memastikan pertanyaan dari sang istri. “a… a... a... apa, apa kamu bilang?”
“mas selingkuhkan?” pertanyaan ronde kedua.

Pak Parto mulai keluar keringat dingin, “siapa yang bilang?”
“mas tidak usah tahu dari siapa, sebenarnya akhir akhir ini aku sudah curiga dengan kelakuan mas Parto” ronde tiga.

Mulut Pak Parto bergetar, “ja… ja… jangan percaya dengan omongan orang!”
“halah, tadi siang ada yang mengetahui kalau mas ada main degan Mrs WRT?”
ronde empat.
“kamu lebih percaya aku atau orang lain!” kilah Pak Parto.
“mas tidak bohong?” ronde lima.
“ya… ya enggaklah.” jawabnya
“jadi mas benar benar tidak selingkuhkan?” ronde enam.
“buat apa aku selingkuh.”
“janji!” ronde tujuh.
“janji.” lagak Pak Parto yang sok tenang karena mengira kemarahan istrinya yang sudah mulai reda tetapi diakhir-akhir ronde inilah pak parto lengah.
“awas kalau sampai ketahuan selingkuh!” ronde delapan.
“nggak deh, mas janji nggak akan ketahuan kalau selingkuh.” Jawab Pak Parto meluncur ringan dari bibirnya persis seperti kalimat yang diucapkan oleh pemeran suami didalam televisi yang ditontonya barusan.
Priiiiiit…! “apa”

Dengan emosi yang tinggi istri Pak Parto menuju dapur dan mengulek beberapa cabai rawit merah untuk menggertak sambal. Saya tidak memberikan tanda kutip atau huruf miring untuk kata gertak sambal karena memang itu bukan istilah tetapi istri Pak Parto benar-benar membuat sambal dan mendatangi rumah Mrs WRT lalu mengusapkan sambal kemuka Mrs WRT. Kejadian ini tak ayal menjadi adegan “goro-goro” di desa dan menjadi infotainment dengan rating tinggi di desa.

"keluarga Pak Parto ada ada aja”



(nama orang dan tempat kejadian disamarkan untuk melindungi pelaku dari infotaintment lain)

What is “nar” in a name ?

What is “nar” in a name ?

Ada berbagai alasan dan pertimbangan ketika orang tua memberikan nama bagi anaknya, selain sebagai identitas awal, nama juga akan dapat mempengaruhi kepribadian, kemampuan berinteraksi baik secara personal maupun sosial.
Sering sekali orang berujar “What is in a name?”, apa arti sebuah nama? Sebuah kalimat dalam fragmen Romeo Julliet karya William Shakespeare yang kemudian menjadi populer dan mengekor pada orang orang yang menjadikan pertahanan terhadap kontekstual sebuah nama.

Apakah lantas ketika orang mengucapakan kalimat itu, benar-benar ia tidak menganggap pentingnya sebuah nama. Coba kita imajinasikan ( baca riilkan ) apa yang terjadi di era kekinian ini tak kala kita mengkosongkan blangko-blangko, data ataupun formulir resmi yang membubuhkan identitas asli yang tentu paling urgent didalamnya adalah sebuah nama, tentunya eksistensi kita tidak dilegalisasi!
Atau orang mengucapkan itu hanya sekedar ber Shakespeare ria tanpa maksud yang jelas.

Saya rasa Shakespeare bukanlah orang kacangan yang dengan sembarangan menjatuhkan mutiaranya, adalah seorang filusuf ternama di eranya pada abad 16 an. “what is in a name?” tidaklah sesederhana itu. Terdapat dalam karya karya Shakespeare itu sendiri seperti Hamlet karya drama terbesar Shakespeare yang didalamnya mengisahkan tentang keturunan, pembalasan dendam yang tentu tak lepas dari nama nama, karya yang lain dimana ia memakai nama anaknya Hamnet dalam karya tersebut, itu berarti nama ternyata sangatlah penting bagi Shakespeare.
Jelaslah bahwa nama begitu penting dalam kalimat Shakespeare yang nampak sederhana itu, ibaratnya kita membuka alkitab tanpa tafsir yg kemudian menerjemahkanya secara lugas.

Apakah nama sebegitu pentingnya? Ya sangat penting bagi saya.
Sampai sejauh ini saya belum pernah mendengar seorang anak yang dilahirkan tanpa nama, kecuali memang anak yg dibuang ibunya karena sang ibu hanya butuh kenikmatan shahwat saja atau anak yang hilang ditemukan di jalanan itu persoalan lain lagi.

Ada ungkapan dalam bahasa arab yang artinya “Nama adalah doa” atau ungkapan Jawa ”asma mawi donga” ( nama mengandung doa ). Saya sepakat dengan ungkapan itu selama perbincanganya masih dalam relnya tetapi juga bukan berarti nama adalah Dewa atau Tuhan yg patut disembah.

Dalam suatu kesempatan saya terlibat pembicaraan dengan seorang Ustadz di dalam masjid, Pak Ustadz menyuruh mengganti nama saya karena nama saya terdapat unsur kata neraka dalam bahasa arab “nar” sedangkan nama saya adalah nama Jawa ( Winarno Hadi saputro ), kemudian masih dengan berbahasa Arab Pak Ustadz menjelaskan dalil-dalil tentang pentingnya pemilihan sebuah nama, untuk yang ini saya sangat sepakat karena pembahasanya dan sampel-sampel yang dipakai merujuk pada bahasa arab yang tentunya bisa sangat dipahami dari perspektif yang sama tetapi kalau men”tandem” kan nama jawa dengan bahasa Arab dan sebaliknya ataupun dengan bahasa lain lalu menariknya dengan garis lurus maka bisa saja terjadi distorsi pemaknaan.

Saya teringat daftar nama-nama “unik” tentang kenamaan mereka, Mei yang lahirnya pada bulan Juni, Awan ( siang ) Kurniansah yang lahir pada malam hari, juga teman saya orang Jawa bernama Supra yang namanya sama dengan tipe sepeda motor produksi Jepang atau yang lebih ekstrem lagi nama Tai lee seorang pengusaha besar di Malaysia serta masih banyak daftar nama lainya. Saya memang tidak mengaitkan unsur kata “nar” ( neraka ) dalam nama mereka tetapi secara substansi nama nama itu bisa menjadi salah satu jawaban buat Pak Ustadz bahwa pembahasan sebuah nama tidak bisa menggunakan pendekatan secara linguistik saja tetapi pendekatan non linguistik/situasional juga bisa dilibatkan sesuai dengan wilayah, makna bahasa secara kultural, kandungan filosofis maupun proses penamaan sehingga tidak memunculkan perbedaan interpretasi.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa pemikiran Pak Ustadz begitu dangkal, sama sekali tidak! Tetapi justru pemikiran sayalah yang dangkal karena tidak bisa memahami bagaimana seorang Ustadz berkata selayaknya nama adalah sebuah pakem dalam konteks satu bahasa saja atau mungkin saya belum bisa mengikuti pembicaraan sekelas beliau dengan frame-frame dan mindset keagamaan yang begitu kuat sedangkan saya hanyalah seseorang yang masih harus banyak belajar tentang ilmu Agama.
Tetapi yang jelas hingga saat ini saya belum berminat untuk mengganti nama asli pemberian orang tua saya.

Fenomena x Gempa Tasik Malaya + Gempa Sumatera : Angka = 0 ( Misteri )

Fenomena x Gempa Tasik Malaya + Gempa Sumatera : Angka = 0 ( Misteri )

Anda mungkin sudah sangat sering mendengar angka-angka yang dihubungkan dengan fenomena yang terjadi disekitar kita, hal itu akan tambah menarik tak kala menyangkut hal-hal besar yang up to date. Angka selain melambangkan bilangan, sebagian besar masyarakat menganggap ada misteri di balik munculnya sebuah angka tersebut.

Angka bisa punya karakter yang berhubungan dengan hal tertentu, semisal angka 1=matahari, ego, bijaksana, ..., angka 2=bulan, pengatur, ..., 3=venus, cinta, ..., dan seterusnya. Atau angka yang berhubungan dengan bidang tertentu, angka 2,4,8 dalam talenta bisnis. Angka 3,6,9 dalam talenta seni. Angka 1,5,7 dalam talenta sains. Ada juga angka keberuntungan ataupun angka ke naas an. Dikalangan kaum sufi angka 9 melambangkan kesempurnaan, sebab setelah angka sembilan adalah 0 (nol). Begitupun dalam sejarah turunnya Al Quran, angka 2 menjadi sangat menonjol jika dihubungan dengan waktu turunnya wahyu tersebut yaitu selama 22 tahun 2 bulan 22 hari, yang dibagi menjadi 2 periode. Serta masih banyak kasus lagi yang erat hubunganya dengan angka.

Semalam teman saya mengirimi sebuah pesan singkat yang masih ber nuansa kan angka yang dihubungkan dengan kejadian gempa bumi akhir-akhir ini di negara kita Indonesia dengan surah dalam Al Quran. "gempa Tasik terjadi pada pukul 15:04, Padang pukul 17:16, gempa susulanya pada pukul 17:58 serta gempa Jambi pada pukul 8:52…". Pesan dari teman saya itu saya krosscek kan dengan waktu kejadian dari pemberitaan beberapa media maupun dari BMG (badan meteorologi dan geofisika) sebagai badan resmi yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika di Indonesia.

Hasilnya adalah untuk waktu kejadian gempa di Tasik malaya 2 september 2009 ada perbedaan, pesan teman saya menyebutkan waktu angka kejadian 15:04, sedangkan dari BMG 14:55. Dan juga waktu kejadian gempa susulan di Padang, teman saya menyebutkan angka 17:58 sedangkan dari BMG 17:38. Untuk waktu kejadian gempa utama di Sumbar dan Jambi adalah sama yaitu Gempa Padang terjadi pada pukul 17:16, gempa Jambi 8:52.

Lalu saya mencoba membuka Surah dan ayat dalam Al Quran yang dihubungkan dengan waktu kejadian gempa tersebut. Bagi anda yang sudah mengetahui dan melakukanya bolehlah direnungkan tetapi bagi yang belum bolehlah disimak;

1. Waktu kejadian gempa Tasik malaya versi pesan dari teman saya 15:04 :
“wa maa ahlaknaa min qaryatin illa walahaa kitaabun ma’luumun”.
( QS 15:4)
Artinya: Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeri pun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan. ( Surah 15 AL HIJR, Ayat 4 )

2. Sedangkan dari BMG 14:55 tidak ada yang bisa ditulis karena memang surah 14 (Ibrohim) hanya sampai pada ayat 52.

3. Waktu kejadian gempa Sumatera Barat 17:16
“wa idzaa aradnaa an nuhlika qaryatan amarnaa mutrafiiha fafasa quufiihaa fahaqqa ‘alayhaa alqawlu fadammarnaa haa tadmiiraan
”.(QS. 17:16)
Artinya: Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (suatu mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. ( Surah 17 AL ISRA, Ayat 16 )

4. Waktu gempa susulan Sumatera Barat versi pesan teman saya 17:58
“wa in min qaryatin illa nahnu muhlikuuhaa qabla yawmi alqiyaamati aw mu’adzdzi buuhaa ‘adzaaban syadiidan kaana dzaalika fii alkitaabi masthuuraan ”.
(QS. 17:58)
Artinya: Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh). ( Surah 17 AL ISRA, Ayat 58 )

5. Waktu gempa susulan Sumatera Barat dari BMG 17:38
“kullu dzaalika kaana sayyiuhu ‘inda rabbika makruuhaan” . (QS. 17:38)
Artinya: Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Rabbmu .( Surah 17 AL ISRA, Ayat 38 )

6. Waktu kejadian gempa di Jambi 8:52
“kadalbi aali fir’awna waalladziina min qablihim kafaruu bi aayaati allaahi fa akhadzahumu allahu bidzunuu bihim inna allaaha qawiyyun syadiidu al’I qaabi”.
(QS. 8:52).
Artinya: (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Firaun dan pengikut-pengikutnya serta orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat keras siksa-Nya. ( Surah 8 AL ANFAAL, Ayat 52)

Nah silahkan direnungkan apakah korelasi angka angka dan kejadian gempa di Indonesia tersebut hanyalah sebuah kebetulan atau memang ada suatu misteri (pertanda) untuk dipikirkan, karena kalau menilik dari ilmu alam non samawi. Gempa adalah fenomena alam yang wajar yaitu getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi. Walaupun bumi padat tetapi selalu bergerak, dan gempa bumi akan terjadi apabila tekanan pergerakan itu sudah terlalu besar untuk dapat ditahan. Wallahu alam.

“PUASA ADALAH IBADAH YANG BODOH!”

“PUASA ADALAH IBADAH YANG BODOH!”

“puasa adalah ibadah yang bodoh!”.
Maaf sedulur sedulur kalimat tersebut bukan saya yang mengucapkannya langsung tetapi saya “meminjamnya” dari seorang rekan kerja saya yang notabenenya adalah orang asing (di negaranya sendiri), maksud saya sayalah yang menjadi orang asing karena saya bekerja di negerinya, Korea selatan. Kalimat tersebut dia ucapakan pada awal bulan Ramadhan kemarin lantaran beberapa dari kita, orang Indonesia sedang berpuasa. Dan pada saat jam makan siang rekan-rekan yang berpuasa tentu saja tidak ikut makan di siktang (semacam kantin).

Alhasil terjadilah rembugan sederhana dan karena keterbatasan bahasa yang kita kuasai, kita hanya menjelaskan bahwa puasa adalah tuntutan agama, tidak makan tidak minum dari pagi hingga sore hari. Itulah yang saya sebut sederhana. “ibadah yang bodoh…pekerjaan kita ini membutuhkan tenaga dan kita harus makan minum untuk itu, pastilah sangat berat kalau berpuasa. Sudah tidak usah puasa… Agama kok memberatkan umatnya, agama apa itu!”. Beberapa rekan saya ada yang mencak mencak “asu…!”. Pada awalnya saya juga ikut bertanduk tetapi setelah itu saya malah tertawa sendiri. Sedikit gambaran bahwa penduduk Korea selatan kurang lebih 50 juta jiwa dengan “kebebasan beragama” yang diperbolehkan oleh undang-undang konstitusi, pemeluk agama Budha 26,3%, Kristen 18,8%, Katholik 7,0% dan sedikit presentase agama lain (Memahami Budaya Korea, Professor Hae-Suk Na, 2008). Jadi hampir separuh penduduk Korea selatan masih beragama “bebas”. Ups…maksud saya bahasa yang lebih halusnya “kebebasan beragama”. Tak terkecuali di tempat saya bekerja hanya sejumput yang menyatakan dirinya beragama yang lainya masih “area bebas” tadi. Jikalau ditanya “apa agamamu?” orang-orang ini akan menjawab "saya adalah Tuhan."

Pernah suatu ketika saya iseng-iseng “menawarkan” agama Islam kepada beberapa diantara mereka. “Islam berat nggak boleh ini nggak boleh itu” jawabnya. “memeluk aja agama lain, Budha, Kristen, Katholik!”. “saya tidak suka, saya ini Tuhan jadi sudah tidak perlu beragama”. Pada titik inilah bahwasanya tiap orang beragama bahkan orang tidak beragamapun punya versi “kebenaran” sendiri-sendiri menurut mereka. Lalu bagaimana dengan para penyebar agama dan para misionaris? Jawabanya silahkan saja asal menyebrang di Zebra cross meskipun di “area bebas” soalnya terkadang ada kendaraan yang berlalu lalang jangan sampai tertabrak…!

Mengenai puasa, pernyataan orang korea dan mencak-mencaknya teman saya, Ini kan bersifat principle dan primordial dalam agama saya, bathin saya berkata saat itu. Ha...ha… ha…ternyata tidak hanya keterbatasan bahasa kita untuk menjelaskan tentang puasa tetapi juga keterbatasan kita dalam memaknai “bahasa” puasa. Itulah yang membuat saya tertawa.

Kemudian saya mencoba membagikan kata “pinjaman” dari rekan orang korea tersebut kepada teman-teman saya untuk melihat reaksi awal dari mereka, respon yang beragam. Ada yang mempertanyakan dengan nada G minor bariton suara tinggi, ada yang meng”kualat-kualat”kan saya bahkan ada yang menyuruh saya ber “tobat”.

Sebenarnya motif saya membagikan kata “pinjaman” itu tak lebih dan tak bukan hanya ingin mengetahui bagaimanakah reaksi awal jika mendengar kata itu apakah sama dengan saya ketika pertama mendengarnya, karena terkadang apa yang saya anggap obyektif bisa menjadi subyektif bagi orang lain begitupun sebaliknya walaupun keduanya dibatasi nilai normatif. Sekali lagi monggo kalau mau menyebrang boleh lewat zebra cross atau lewat jembatan penyebrangan aja….. “awas ada motor yak-yakan lewat…!”



Dasan, Korea Selatan. Pada suatu ketika.

Bangga Nasionalisme Dan Budaya Indonesia

Bangga Nasionalisme Dan Budaya Indonesia

Beberapa hari yang lalu saya melihat seorang teman sedang ber”onani” di sudut kamar blognya tempat biasa dia mengeluarkan cairan-cairan yang mengendap dalam tubuhnya “Nasionalisme Apa?”. Lintanglanang.blogspot.com. Itulah “mani” yang dia keluarkan saat itu lantaran maraknya slogan “ Ganyang Malaysia!!” yang belakangan ini memenuhi ruang publik, mulai dari kolom-kolom status di situs jejaring sosial macam facebook, blog-blog pribadi, berbagai ruang lain di dunia ‘maya’, hingga aksi "nyata” yang dilakukan beberapa kawan seniman dan jurnalis di Semarang “. Katanya ( saya bilang katanya biar tidak dikira saya mengklaim tulisannya dan nantinya akan ada yang mengganyang saya ).

Teman saya menyoroti dari perspektif kebudayaan yang menjadi salah satu obyek “peperangan” antara Indonesia dan Malaysia. Secara substansi, saya ikut membenarkan agar kita jangan grusa-grusu tersulut menjudge dan mau mengganyang bangsa lain ( Malaysia ) dengan dalih Nasionalisme tetapi silahkan mencoba dikaji lebih jauh lagi. Saya jadi teringat pertemuan dengan orang “nyentrik” di langsung jaya Solo-Tawangmangu Desember 9 bulan silam, kira-kira berusia 60 an tahun , berambut gondrong, kacamata hitam, rompi, kaos putih bercorak gulo kelopo ( bendera merah putih ) kecil di lengannya, sepatu pantofel.

“…darimana nak?” tanyanya hangat. “dari Jakarta pak habis pre eliminary training”. “emangnya mau kerja keluar negeri ya nak?”. “Ya pak, sekalian mencari pengalaman ”. ( Saya tidak menjawab karena mencari pekerjaan di Indonesia susah atau standar gaji di Indonesia yang masih rendah ). “apakah akan terus menjadi budaya kita ya nak, negara kita yang gemah ripah loh jinawi tetapi banyak rakyatnya 'dibiarkan' mencari pekerjaan di negara lain. ( lagi-lagi saya mendengar kalimat gemah ripah loh jinawi, saya tidak tahu apakah kalimat tersebut adalah benar-benar sebuah paradoks atau hanyalah anakronisme, penghalusan yang diwujudkan dalam simbol-simbol ). “Sebenarnya Negara kita lebih dulu merdeka dibanding Negara tetangga kita seperti Singapura, Brunai, Malaysia, Thailand, tetapi kenapa mereka lebih maju dibandingkan kita ya pak?!”. “yah… kita bangkitkan dulu rasa berkebangsaan dan cinta tanah air kita”. “Nasionalisme ya pak?!” selaku. Ia pun malah tertawa kecil “belum saatnya kita bicara nasionalisme nak! Kita belajar budaya, membudaya dan bangga berbudaya dulu, sebelum menempuh perjalanan jauh kita cukupi dulu kantung-kantung saku kita dengan bekal yang cukup, untuk menjadi maju dan menjadi bangsa yang besar kita hargai dulu jatidiri kita yang bersumber dari hati dan pikiran kita. Moderen boleh-boleh aja tetapi 'budaya' kita jangan sampai ditinggalkan. Lagipula modern atau tidaknya kita, akan tercipta oleh progres pemahaman di dalam otak kita bukan dari pakaian ataupun gaya hidup….” Obrolan kita terputus saat kondektur bus mencolek pria nyentrik “ palur pak?!” Ia pun bergegas dari tempat duduknya dan sebelum turun, senyum kecil diarahkanya pada saya.

Di dalam hati, saya masih memikirkan banyak hal yang diucapkan pria nyentik itu, salah satunya
adalah “budaya”. Mungkin budaya yang dimaksud adalah budaya sebagai hasil produk yang harus dihargai dan dijaga, maupun memperbaiki pola pikir dan mental yang menjadi kebiasaan yang telah terdegradasi, dimana keduanya adalah sebuah rangkaian yang relevan untuk dijadikan salah satu bekal fundamen menjadi negara yang besar. Pada peringatan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia Agustus sebulan lalu, saya mencoba mengenakan baju batik di negara saya tinggal sekarang, tapi apa yang terjadi beberapa teman senegara saya justru men”cederai” batik yang saya kenakan, padahal teman-teman dari negara lain banyak yang menanyakan dan interest terhadap batik yang saya pakai.

Slamet Rahardjo dalam sebuah acara di televisi pernah mengatakan “sebelum go internasional silahkan go lokal dahulu!” kalau boleh menambahkan kalimat tersebut saya akan berkata “sebelum bicara nasionalis silahkan bicara budaya nasional dahulu, sebelum sok nasionalis silahkan belajar berhitung dahulu”.

Kembali ke peperangan antara Indonesia dan Malaysia, mungkin sebagian dari kita sudah tahu, sebenarnya Konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia sudah dimulai pada tahun 1962 dimana pada saat itu Malaysia ingin menggabungkan pulau Kalimantan menjadi satu bagian dengan Malaysia, di lain pihak Philipina juga mengklaim sebagian pulau Kalimantan karena pernah menjadi daerah kekuasaan Sultan sulu, sebuah kesultanan muslim yang pernah berjaya di Philipina pada tahun 1457. Akhirnya indonesia dan Philipina sepakat membentuk sebuah federasi yang diorganisasi oleh PBB dan akan menyelenggarakan refrendum untuk menentukan masa depan kalimantan, namun Malaysia melihat hal ini sebagai skenario Indonesia untuk mendapatkan sepenuhnya pulau kalimantan, demonstrasi anti Indonesiapun terjadi, foto Presiden Soekarno dirobek-robek , lambang Garuda Pancasila diinjak-injak. Amarah Presiden Soekarnopun meledak dan akan melakukan gerakan balas dendam yang terkenal dengan “Ganyang Malaysia” yang dikemudian hari terjadilah konfrontasi dalam arti sebenarnya hingga tahun 1965, namun dikarenakan konflik di dalam negeri dengan berlangsungnya G30S/PKI konfrontasipun mulai mereda.

Pada masa pemerintahaan Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Tun Abdul Razak hubungan kedua negara berlangsung baik, tahun 1974 Pemerintah Malaysia meminta pengiriman TKI untuk mengimbangi jumlah suku bangsa puak (cina), perekonomian Malaysia mulai meroket. Malaysia yang sudah makmur melakukan indusrialisasi sektor pertanian yang mensyaratkan tenaga kerja ahli, TKI mulai dianggap beban ( jawa pos 01/7 ). TKI hanya dianggap jenayah ( biang keonaran ) dan kuli rendahan, banyak perlakuan-perlakuan diskriminatif yang dilakukan terhadap para TKI. Malaysiapun “melirik” pulau-pulau potensial di Negeri kita, Sipadan Ligitan , pulau Sebatik, Ambalat, pulau Jemur dan pulau-pulau lainnya. Terakhir kepongahan Malaysia adalah warganya yang melecehkan lagu Indonesia Raya dengan mengganti liriknya.

“Pencaplokan budaya” oleh Malaysia (lagi) , bisa menjadi tumbal refleksi dan interopeksi diri selama masih dalam bilik kebudayaan namun akan lain halnya jika telah menular ke ranah yang lebih komplek. Masalah territorial, pelecehan lagu Indonesia Raya, perlakuan arogan terhadap warga indonesia. Dalam hal ini jika benar adanya, negara tersebut perlu di”jewer” untuk merubah stigma yang menganggap kita sebagai bangsa sudra oleh warga Malaysia…





Dasan, Korea Selatan. 14 September 2009.